Kanalgresik.com - Konferensi Daerah (Konferda) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur di Nganjuk, Minggu (6/9/2026), diwarnai kericuhan. Sejumlah peserta disebut mengalami intimidasi, sementara Ketua DPC GMNI Jember dikabarkan mengalami luka pada bagian wajah dalam insiden yang terjadi di tengah persidangan.
Berdasarkan informasi dari pihak yang menyampaikan kronologi kejadian, bibir Ketua DPC GMNI Jember mengalami luka hingga mengeluarkan darah. Dalam kondisi tersebut, korban disebut sempat berupaya menghentikan pendarahan menggunakan tisu.
Baca juga: Konferda GMNI Jatim di Nganjuk Ricuh, Delegasi Disebut Luka hingga Muncul Dugaan Politik Uang
Pihak tersebut menuding luka itu terjadi setelah korban diduga dipukul menggunakan batu. Namun, dugaan mengenai penyebab luka dan pihak yang melakukan kekerasan masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
Nama salah satu pimpinan sidang tetap, Virgiawan Budi, kader asal Cabang Surabaya, disebut dalam tudingan tersebut. Hingga berita ini disusun, belum diperoleh klarifikasi dari Virgiawan terkait tudingan itu.
Kericuhan disebut terjadi ketika proses persidangan dan pemilihan dalam Konferda berlangsung. Sejumlah peserta yang dinilai tidak sejalan dengan arah dukungan terhadap salah satu calon disebut mendapat tekanan, intimidasi hingga pengusiran dari ruang persidangan.
Salah satu nama yang muncul dalam polemik pemilihan tersebut adalah Kelvin. Berdasarkan informasi yang diterima, Kelvin disebut memperoleh dukungan dari sejumlah senior organisasi dan elite DPP GMNI.
Pihak yang menyampaikan kronologi menduga adanya pengondisian peserta untuk memperlancar proses pemenangan calon tertentu. Namun, tudingan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan masih membutuhkan penjelasan dari pihak-pihak yang disebut.
Selain persoalan kericuhan dan dugaan kekerasan, pelaksanaan Konferda juga disorot terkait keberadaan sejumlah cabang yang oleh pihak tertentu disebut sebagai "cabang siluman".
Keberadaan cabang-cabang tersebut dipersoalkan karena dinilai berpotensi memengaruhi komposisi suara dalam forum pemilihan kepemimpinan organisasi. Tudingan mengenai status dan legitimasi cabang tersebut masih memerlukan verifikasi berdasarkan mekanisme organisasi GMNI.
Nama Ketua DPD GMNI Jawa Timur, Hendra, serta Ketua DPP GMNI, Risyad, turut disebut dalam polemik. Keduanya dinilai belum menunjukkan sikap tegas terhadap berbagai dugaan pelanggaran yang disampaikan oleh pihak yang mempersoalkan jalannya Konferda.
Kericuhan juga disebut memunculkan persoalan lain. Seorang peserta bernama Azis dikabarkan kehilangan telepon seluler pribadinya saat situasi di lokasi memanas.
Menurut kronologi yang disampaikan, hilangnya telepon seluler tersebut sempat memicu aksi kejar-kejaran di sekitar lokasi Konferda. Pihak yang menyampaikan informasi menduga orang yang membawa telepon seluler itu memiliki hubungan dengan DPD GMNI Jawa Timur.
Dugaan tersebut belum terkonfirmasi. Belum ada keterangan dari pihak yang dituding maupun penjelasan mengenai apakah persoalan telepon seluler tersebut telah dilaporkan atau ditindaklanjuti secara resmi.
Rangkaian kejadian itu menimbulkan sorotan terhadap pelaksanaan Konferda GMNI Jawa Timur di Nganjuk. Forum yang seharusnya menjadi ruang konsolidasi, adu gagasan, serta mekanisme demokratis untuk menentukan arah organisasi justru disebut diwarnai ketegangan, intimidasi, dan dugaan kekerasan.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari Virgiawan Budi, Hendra, maupun Risyad mengenai tudingan penganiayaan, pengondisian suara, persoalan legitimasi cabang, maupun hilangnya telepon seluler peserta.
Catatan Redaksi: Berita ini memuat informasi dan tudingan yang masih memerlukan konfirmasi. KanalGresik.com tidak menyimpulkan bahwa tudingan tersebut telah terbukti. Pihak-pihak yang disebut memiliki hak jawab dan dapat menyampaikan klarifikasi kepada redaksi.
Editor : Radit