Kanalgresik.com – Jejak perkembangan seni barongan dari masa ke masa dapat dilihat dalam Pameran Abirama 2 bertajuk Rasa Rupa Topeng Barong yang digelar di Gedung Bhagawanta, Kabupaten Kediri.
Pameran yang dimulai sejak 17 Agustus 2026 tersebut menghadirkan puluhan koleksi barongan dengan karakter dan usia yang beragam.
Sebanyak 57 barongan dipajang di lokasi utama. Jika dihitung dari seluruh rangkaian kegiatan, koleksi yang ditampilkan mencapai sekitar 70 barongan.
Barongan dari Berbagai Daerah Dipamerkan
Ketua Panitia Abirama 2, Prastyawan, mengatakan nama Abirama diambil dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti selaras dan serasi.
Makna tersebut menggambarkan perpaduan dua unsur dalam pembuatan barongan, yakni kepala berbahan kayu yang dikerjakan dengan teknik ukir serta bagian kulit yang dibuat menggunakan teknik sungging.
Menurut Prastyawan, pameran tersebut tidak hanya menjadi tempat memajang karya, tetapi juga sarana edukasi untuk mengenalkan seni tradisional kepada masyarakat, terutama pelajar dan generasi muda.
“Pameran ini adalah suatu bentuk edukasi untuk masyarakat luas. Sasarannya yang paling utama pelajar karena di era sekarang digital, tidak bisa dipungkiri teman-teman Gen Z tidak tahu bagaimana dulunya kesenian itu,” jelasnya.
Ada Barongan Buatan Tahun 1920
Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah barongan yang dibuat pada 1920. Koleksi tersebut menjadi salah satu karya tertua yang dipamerkan dan memberikan gambaran mengenai perkembangan bentuk barongan pada masa lampau.
Koleksi yang ditampilkan juga tidak hanya berasal dari Kediri.
Barongan dari Tulungagung, Blitar, Malang dan sejumlah daerah lainnya turut dihadirkan dalam pameran.
Perbedaan karakter terlihat dari detail ukiran, teknik pewarnaan hingga bentuk barongan yang berkembang mengikuti zamannya.
“Barongan itu di Nusantara ada semua. Yang membedakan salah satunya ciri khas ukirannya. Kediri punya ciri khas sendiri, Tulungagung juga, Blitar juga, begitu pula daerah lainnya,” ungkap Prastyawan.
Generasi Muda Jadi Sasaran Utama
Pelaksanaan Abirama 2 dibuat lebih besar dibandingkan penyelenggaraan pertama pada 2024.
Selain jumlah koleksi yang bertambah, daerah asal barongan yang ditampilkan juga semakin beragam.
Prastyawan mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk mendorong regenerasi sekaligus meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga kebudayaan lokal.
“Tujuannya untuk meregenerasi dan mengedukasi bahwa melestarikan kebudayaan dan kesenian lokal itu penting,” tegasnya.
Menurutnya, generasi muda tidak harus langsung menjadi seniman untuk ikut melestarikan kesenian tradisional.
Mengenal, memahami, kemudian memperkenalkannya kembali melalui media sosial juga dapat menjadi bagian dari upaya pelestarian.
“Minimal mengetahui dan mengulas. Tidak harus langsung terjun menjadi seniman. Bisa mengenal, kemudian membagikan melalui media sosial. Karena kalau bukan anak muda, siapa lagi yang meneruskan?” ujarnya.
Pelajar Diajak Melukis Barongan
Pameran tersebut juga menjadi ruang belajar bagi para pelajar yang berkunjung.
Calysta Putri Naraya, siswi kelas VIII SMPN 1 Plosoklaten, mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai berbagai karakter barongan dari sejumlah daerah.
“Banyak, Kak. Ada yang khas Kediri, ada juga dari Tulungagung. Di sini kita mempelajari banyak budaya tentang barongan dan jadi tahu lebih banyak,” tuturnya.
Menurut Calysta, melihat barongan dari jarak dekat membuatnya dapat mengetahui detail yang sebelumnya tidak terlihat.
Mulai dari ukiran, pewarnaan hingga jamang atau mahkota yang terdapat di bagian belakang barongan.
Selain melihat koleksi, para pelajar juga diajak menuangkan kreativitas melalui kegiatan melukis barongan.
“Menariknya lagi di sini kita bisa melukis barongan. Jadi kita bisa berimajinasi sesuka hati. Dan gratis lagi,” ujarnya.
Ada Lomba Ukir hingga Pertunjukan Barongan
Abirama 2 juga dilengkapi sejumlah kegiatan pendukung.
Di antaranya lomba barong, lomba mengukir barongan yang proses pengerjaannya berlangsung selama tiga bulan, serta lomba melukis barongan yang diperuntukkan bagi pelajar.
Seluruh rangkaian kegiatan dijadwalkan berakhir pada 21 Agustus 2026.
Penutupan pameran sekaligus menjadi puncak acara yang akan dimeriahkan dengan pertunjukan barongan.
Melalui pameran tersebut, seni barongan tidak hanya ditampilkan sebagai peninggalan budaya masa lalu, tetapi juga diperkenalkan kepada generasi muda sebagai kesenian yang masih dapat dipelajari, dikembangkan, dan dilestarikan.
Editor : Deni Adi Santoso