Festival Menjadi Gresik Hidupkan Kembali Ingatan Budaya di Kampung Kemasan

Reporter : Radit
Suasana Festival Menjadi Gresik yang mengangkat sejarah, tradisi, kuliner, dan pengetahuan lokal masyarakat di Kampung Kemasan, Gresik.

Kanalgresik.com - Festival Menjadi Gresik menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan Kota Gresik melalui rangkaian pameran, riset, gastronomi, hingga aktivitas budaya di Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan.

Festival yang diprakarsai Yayasan Gang Sebelah tersebut berlangsung selama 15–30 Agustus 2026. Kawasan bersejarah Kampung Kemasan diaktifkan sebagai ruang pameran, presentasi penelitian, sekaligus laboratorium kebudayaan yang melibatkan masyarakat dan berbagai komunitas.

Baca juga: Tujuh Motor Hilang dalam Sehari, Surabaya hingga Gresik Dilanda Pencurian

Direktur Festival Menjadi Gresik, Hidayatun Nikmah, mengatakan festival tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap narasi sejarah kota yang selama ini lebih banyak dibangun melalui kisah-kisah besar. Padahal, pengetahuan lokal yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat juga menjadi bagian penting dari identitas Gresik.

“Dari dapur, pakaian, makanan, kampung, hingga cerita yang diwariskan antargenerasi, kita bisa melihat bagaimana sebuah masyarakat membentuk identitas kotanya,” ujar Hidayatun Nikmah.

Kuliner Gresik Ditelusuri Lewat Seri Gastronomi
Salah satu program yang menjadi bagian Festival Menjadi Gresik adalah Seri Gastronomi. Program ini menelusuri sekaligus mendokumentasikan resep, bahan baku, teknik pengolahan, serta sejarah kuliner khas Gresik.

Sejumlah kuliner yang ditelusuri antara lain bandeng keropok, jubung, dan bubur roomo. Penelitian tidak hanya berfokus pada makanan sebagai produk kuliner, tetapi juga menggali perjalanan para pembuatnya dalam mempertahankan warisan rasa secara turun-temurun.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat identitas Gresik melalui kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk tradisi yang berkembang dari lingkungan rumah dan kampung.

Delapan Kelompok Teliti Budaya Gresik
Festival ini juga menghadirkan program Besali Studi Kultural yang melibatkan delapan kelompok peneliti dari berbagai komunitas dan institusi pendidikan.

Baca juga: Mesin Tungku Picu Kebakaran Gudang Arang di Manyar, 114 Kasus Terjadi Sepanjang Agustus

Mereka melakukan penelitian terhadap sejumlah aspek sosial dan budaya Gresik. Topik yang diangkat meliputi perkembangan pakaian adat, sejarah budaya Tionghoa dan Arab di Gresik, arsitektur Kampung Kemasan, dinamika Pasar Pahing, hingga keberadaan pengrajin songkok dan tas besali.

Penelitian lainnya membahas tradisi gulat okol, pelestarian aksara Gresik, serta tradisi laban di kawasan Pangkah.

Hasil penelitian tersebut kemudian dipresentasikan dalam rangkaian kegiatan festival untuk membuka ruang pertukaran pengetahuan mengenai sejarah dan kebudayaan lokal.

Warga Didorong Menjadi Pelaku Sejarah
Direktur Program Festival Menjadi Gresik, Irfan Akbar, mengatakan festival tersebut tidak ditujukan untuk menetapkan satu definisi mengenai identitas Gresik.

Baca juga: LTM NU Gresik Raih Peringkat 2 Teraktif se-Jatim, Kiprah Kemasjidan Digaanjar Penghargaan

“Kami ingin membuka ruang agar warga dapat menceritakan Gresik dari pengalaman mereka sendiri,” tutur Irfan.

Karena itu, rangkaian kegiatan dikemas secara interaktif. Selain pameran arsip dan presentasi riset, festival menghadirkan pemutaran film dokumenter, peragaan busana lokal, lokakarya, serta walking tour yang mengajak peserta menyusuri kawasan bersejarah.

Melalui pendekatan tersebut, Festival Menjadi Gresik menempatkan warga sebagai bagian penting dalam proses menjaga ingatan kota. Sejarah Gresik tidak hanya dipandang sebagai kumpulan bangunan lama atau dokumen, tetapi juga sebagai pengetahuan, tradisi, kuliner, cerita kampung, dan pengalaman yang terus diwariskan antargenerasi.

Yayasan Gang Sebelah melalui festival ini berupaya membuka ruang bagi masyarakat untuk mendokumentasikan sekaligus menceritakan kembali Gresik berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang hidup di tengah mereka.

Editor : Radit

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru