Emil Dardak Soroti Inflasi Jatim, UOB Dorong Strategi Investasi Berbasis Profil Nasabah

Reporter : Deni Adi Santoso
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak saat menjadi keynote speaker dalam Privilege Conversation Mid-Year Market Outlook 2026 yang digelar UOB Privilege Banking

Kanalgresik.com - Perekonomian Jawa Timur masih menunjukkan pertumbuhan positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, tekanan inflasi dan tingginya ketergantungan industri terhadap biaya energi menjadi perhatian yang perlu diantisipasi hingga akhir 2026.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak saat menjadi keynote speaker dalam Privilege Conversation Mid-Year Market Outlook 2026 yang digelar UOB Privilege Banking di Grand Ballroom Sheraton Surabaya Hotel & Towers, Senin (14/9/2026) malam.

Acara bertema Beyond Uncertainty: Capturing Opportunities in The New Economic Cycle tersebut juga menjadi forum bagi UOB Indonesia untuk memberikan gambaran kondisi pasar sekaligus mendorong nasabah, khususnya segmen prioritas, menentukan strategi finansial berdasarkan kebutuhan dan profil risiko.

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,72 Persen
Emil mengatakan, ekonomi Jawa Timur mencatat pertumbuhan 5,72 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026.

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Jatim sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 5,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Emil, Jawa Timur menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi mendekati 15 persen terhadap ekonomi Indonesia. Nilai PDRB Jawa Timur bahkan mencapai sekitar Rp930 triliun dalam satu triwulan.

Struktur ekonomi tersebut ditopang sejumlah sektor utama. Industri pengolahan atau manufaktur menjadi kontributor terbesar dengan porsi 31,11 persen, disusul perdagangan yang mencapai sekitar 18,22 persen.

"Manufaktur ini sangat sensitif terhadap cost, penggerak utamanya adalah bahan bakar minyak primer dan gas," jelas Emil.

Ketergantungan tersebut membuat perubahan harga energi menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi biaya produksi dan stabilitas ekonomi Jawa Timur.

Inflasi Jatim Jadi Perhatian
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih berada di atas 5 persen, Emil mengingatkan adanya tekanan dari sisi inflasi.

Pada Agustus 2026, inflasi Jawa Timur tercatat 0,34 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,21 persen.

Secara year to date (ytd), inflasi Jatim mencapai 1,82 persen. Sementara secara tahunan, inflasi tercatat 3,32 persen.

Emil menilai tekanan inflasi tidak selalu disebabkan tingginya permintaan atau kondisi ekonomi yang terlalu panas (overheating). Gangguan pasokan atau bottleneck di sektor riil juga dapat meningkatkan biaya produksi dan mendorong inflasi.

"Kalau solusi terhadap inflasi hanya menaikkan suku bunga, itu bisa menghukum perekonomian dua kali. Jangan-jangan bukan suku bunga yang menjadi persoalan, tetapi ada faktor lain yang menyebabkan inflasi," ujarnya.

Pemerintah Jamin Harga BBM
Salah satu langkah yang dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi adalah memastikan harga energi tetap terkendali.

Emil menyebut pemerintah telah memberikan jaminan bahwa harga BBM tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026.

"Tentu sudah ada assurance (jaminan) dari pemerintah, sampai akhir tahun harga BBM tidak akan naik," ungkapnya.

Menurut Emil, stabilitas harga energi dibutuhkan untuk mencegah gejolak di masyarakat, termasuk antrean, panic buying, maupun spekulasi yang berpotensi mendorong kenaikan inflasi.

Kebijakan tersebut juga dinilai penting bagi Jawa Timur karena besarnya kontribusi sektor manufaktur yang membutuhkan energi dalam proses produksinya.

UOB Perkuat Layanan Berbasis Nasabah
Sementara itu, UOB Indonesia menilai dinamika pasar keuangan membuat kebutuhan terhadap informasi dan layanan finansial yang lebih personal semakin penting.

Head of Consumer Banking UOB Indonesia Herman Soesetyo mengatakan, pihaknya kini semakin mengedepankan pendekatan client centric, terutama bagi nasabah segmen privilege.

Pendekatan tersebut tidak sekadar menawarkan produk investasi, tetapi dimulai dengan memahami kebutuhan, tujuan finansial, tahapan kehidupan, serta profil risiko nasabah.

"Tahun ini secara khusus kami menerapkan segmentasi. Kami mengembalikan fokus kepada nasabah, terutama nasabah privilege, dengan melihat kebutuhan mereka dan menyesuaikan produk maupun layanan yang tersedia," kata Herman.

Penguatan layanan dilakukan melalui keberadaan client advisor sebagai satu titik kontak bagi nasabah. Melalui konsep tersebut, berbagai kebutuhan, mulai dari konsultasi investasi, administrasi, kartu kredit hingga layanan perbankan lainnya, dapat ditangani secara lebih personal.

"Kami ingin memastikan apa pun kebutuhan nasabah bisa ditangani melalui client advisor. Jadi satu orang benar-benar menjadi titik kontak bagi nasabah," tandasnya.

Strategi Investasi Tak Bisa Disamaratakan
Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia Emillya Soesanto menambahkan, kondisi pasar yang dinamis membuat financial advisory harus disesuaikan dengan kondisi dan tujuan setiap nasabah.

Menurutnya, tidak ada satu instrumen investasi yang cocok untuk seluruh nasabah. Strategi investasi harus mempertimbangkan tujuan finansial serta profil risiko masing-masing.

"Yang kami kedepankan adalah client centric. Tidak melulu berbicara tentang produk investasi, tetapi melihat tujuan finansial, tahapan kehidupan dan risiko nasabah. Setelah itu baru kami memberikan advice yang sesuai," ujarnya.

UOB juga memperkuat layanan melalui kanal digital. Lebih dari separuh nasabah privilege disebut telah memanfaatkan platform digital untuk berbagai kebutuhan, termasuk transaksi investasi.

Di tengah ketidakpastian pasar, edukasi dan informasi mengenai perkembangan ekonomi juga dinilai penting. Market outlook diberikan secara berkala agar nasabah memiliki pemahaman sebelum menentukan strategi investasinya.

"Nasabah harus terus mendapatkan informasi dan outlook pasar secara reguler. Dengan pemahaman yang tepat, mereka bisa lebih percaya diri dalam menentukan strategi investasi," ungkapnya.

Emillya menegaskan, strategi investasi hingga akhir 2026 tetap harus dikembalikan pada tujuan finansial dan profil risiko masing-masing nasabah.

Editor : Deni Adi Santoso

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru