Kanalgresik.com – PT Petrokimia Gresik menguji teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) yang mampu menangkap hingga 97,79 persen karbon dioksida (CO₂) sekaligus menghasilkan soda ash dengan tingkat kemurnian natrium karbonat (Na₂CO₃) mencapai 99,73 persen.
Teknologi tersebut berpotensi mengubah emisi industri menjadi bahan baku bernilai ekonomi. Meski hasil uji coba menunjukkan capaian teknis yang menjanjikan, penerapan dalam skala komersial masih memerlukan evaluasi teknis dan perhitungan kelayakan usaha.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyampaikan hal itu saat meninjau proyek percontohan CCU di Petrokimia Gresik, Jumat (16/10/2026). Ia menilai proyek tersebut berpeluang menjadi langkah awal penerapan teknologi pemanfaatan karbon di industri Indonesia.
“Ini akan menjadi sejarah bagi Petrokimia Gresik sebagai industri yang menjadi pionir bagi penerapan Carbon Capture and Utilization. Ini akan kita sebarluaskan karena proyek percontohan ini menghasilkan manfaat yang besar,” ujar Sarmuji.
Efisiensi Penangkapan Karbon Capai 97,79 Persen
Proyek percontohan CCU ini melibatkan Kementerian Perindustrian, PT Pupuk Indonesia (Persero), Petrokimia Gresik, dan UWin Resources Regeneration Inc. Teknologi tersebut menguji pemanfaatan karbon dioksida dari proses industri sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk lain.
Berdasarkan evaluasi proyek, tingkat efisiensi penangkapan CO₂ mencapai 91,48–97,79 persen. Sementara itu, pengujian kedua pada Mei 2026 menghasilkan soda ash dengan kadar Na₂CO₃ sebesar 99,12–99,73 persen.
Hasil pengujian tersebut dinyatakan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-0598-1989 berdasarkan evaluasi teknis proyek.
Soda ash atau natrium karbonat merupakan bahan kimia yang digunakan dalam berbagai sektor industri, termasuk industri kaca. Pemanfaatan CO₂ sebagai bahan baku produk ini membuka peluang untuk mengurangi emisi sekaligus menciptakan nilai tambah dari proses produksi.
Pemerintah Dorong Evaluasi Menuju Skala Industri
Sarmuji menegaskan, keberhasilan pada tahap percontohan perlu dilanjutkan dengan evaluasi agar teknologi CCU dapat diterapkan dalam skala industri.
“Tentu harus kita evaluasi terus-menerus supaya ini bisa berlaku sebagai sebuah skala industri, bukan hanya pilot project. Kita akan punya roadmap ke sana,” katanya.
Menurutnya, teknologi tersebut berpotensi memberikan manfaat ganda, yakni membantu menekan emisi karbon dan menghasilkan produk bernilai ekonomi. Namun, peningkatan skala produksi perlu mempertimbangkan kebutuhan investasi, biaya operasional, kapasitas produksi, serta nilai jual produk.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, mengatakan hasil pengujian di Petrokimia Gresik telah membuktikan bahwa teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk.
“Hari ini kita menyaksikan proof of concept, artinya teknologi baru yang sudah terbukti bisa dimanfaatkan menghasilkan hal yang bermanfaat. Tadi arahan dari Bapak Menteri untuk meningkatkan menjadi komersial,” ujar Rahmad.
Ia menambahkan, perhitungan kelayakan komersial akan dilakukan apabila pengembangan teknologi berlanjut menuju tahap penerapan industri.
Petrokimia Gresik Dukung Inovasi Dekarbonisasi
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menyampaikan bahwa proyek CCU menjadi bagian dari upaya perusahaan mengembangkan proses produksi yang lebih efisien dan memperkuat pengelolaan lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, Petrokimia Gresik menyediakan lokasi, utilitas, fasilitas pengujian, serta dukungan analisis laboratorium untuk menunjang proyek percontohan tersebut.
“Petrokimia Gresik berkomitmen menerapkan prinsip keberlanjutan dalam operasional perusahaan melalui efisiensi, inovasi, dan pengelolaan lingkungan. Komitmen ini juga kami wujudkan dengan menjadi lokasi proyek percontohan CCU bersama Kementerian Perindustrian dan UWin,” kata Daconi.
Pengembangan teknologi ini diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk mendukung upaya dekarbonisasi industri. Meski demikian, keberlanjutan proyek tetap bergantung pada hasil evaluasi teknis dan kelayakan ekonomi sebelum diterapkan secara komersial.