Kanalgresik.com – Digitalisasi ujian sekolah mulai diterapkan di SDIT Al Ibrah, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Inovasi tersebut dikembangkan Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) bersama Universitas Islam Lamongan (Unisla) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat.

Sistem bernama CBT-Ibrah tersebut dirancang untuk menggantikan sebagian proses ujian konvensional berbasis kertas atau Paper Based Test.

Program ini tidak hanya ditujukan untuk mengurangi penggunaan kertas, tetapi juga menekan biaya operasional, mengurangi beban koreksi guru, serta meningkatkan keamanan dan ketepatan pengelolaan nilai.

170 Ribu Lembar Kertas Terpakai Setiap Tahun
Sebelum menggunakan sistem digital, SDIT Al Ibrah dengan sekitar 680 siswa melaksanakan ujian hingga 50 kali dalam setahun.

Frekuensi tersebut membuat kebutuhan kertas ujian mencapai lebih dari 170.000 lembar setiap tahun.

Pengadaan kertas bahkan diperkirakan menghabiskan anggaran hingga Rp12,5 juta per tahun.

Tidak hanya soal biaya, proses pemeriksaan manual juga menyita waktu guru. Sebanyak 69 guru harus mengalokasikan lebih dari 500 jam kerja setiap tahun untuk mengoreksi lembar jawaban.

Sistem manual juga memiliki risiko kesalahan dalam rekapitulasi nilai yang diperkirakan mencapai 5–10 persen.

Ujian Bisa Berjalan Tanpa Internet
CBT-Ibrah dikembangkan dengan konsep yang menyesuaikan kondisi sekolah.

Salah satu keunggulannya adalah sistem dapat berjalan 100 persen secara offline melalui jaringan lokal sekolah.

Dengan demikian, pelaksanaan ujian tidak bergantung pada koneksi internet eksternal.

Sistem tersebut juga dilengkapi Safe Exam Browser (SEB) yang membatasi akses siswa ke aplikasi lain selama ujian berlangsung.

Selain itu, soal dapat diacak secara otomatis sehingga potensi kecurangan dapat diminimalkan.

10 Guru Dilatih, Dua Jadi Master Trainer
Digitalisasi ujian tidak berhenti pada pemasangan aplikasi.

Tim UISI-Unisla juga memberikan pelatihan kepada guru agar sekolah dapat mengelola sistem secara mandiri.

Sebanyak 10 guru SDIT Al Ibrah mendapatkan pelatihan intensif dan dinyatakan kompeten berdasarkan hasil uji kemampuan dengan rata-rata nilai post-test di atas 80.

Dua guru senior juga dipersiapkan sebagai master trainer yang nantinya dapat melatih guru lainnya tanpa harus bergantung pada tim pengembang.

Tim pengabdian juga menyerahkan tiga modul panduan yang ditujukan untuk admin, guru, dan siswa.

Biaya Ujian Hemat hingga 80 Persen
Dampak digitalisasi mulai terlihat dalam pelaksanaan ujian pilot yang diikuti 30 siswa.

Penerapan CBT-Ibrah mampu meningkatkan efisiensi biaya operasional ujian hingga 80 persen, terutama karena sekolah tidak lagi membutuhkan penggandaan kertas dalam jumlah besar.

Beban kerja guru untuk mengoreksi soal objektif juga turun hingga 90 persen karena proses penilaian dilakukan secara otomatis.

Pada pelaksanaan pilot, sistem juga mampu menekan kesalahan administrasi dalam rekapitulasi nilai hingga 0 persen.

Kepala Sekolah: Waktu Guru Bisa Kembali untuk Mengajar
Kepala SDIT Al Ibrah Gresik Janan mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, manfaat digitalisasi tidak hanya terasa dari sisi penghematan anggaran, tetapi juga dari waktu guru yang sebelumnya banyak digunakan untuk koreksi manual.

“Melalui sistem CBT-Ibrah, kami tidak hanya berhasil menciptakan efisiensi anggaran sekolah dari penghematan kertas, tetapi juga mengembalikan waktu berharga para guru yang sebelumnya tersita untuk koreksi manual agar kini bisa dialihkan untuk mengajar secara lebih produktif,” ungkap Janan.

UISI Dorong Sekolah Mandiri Kelola Teknologi
Ketua Tim Pengusul UISI Brina Miftahurrohmah mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersedianya aplikasi.

Menurutnya, sekolah harus memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan sistem tersebut secara mandiri setelah program pengabdian selesai.

“Melalui pendampingan terstruktur dan pembinaan master trainer internal, kami memastikan SDIT Al Ibrah dapat mengelola dan mengembangkan ekosistem ujian digital ini secara mandiri,” jelas Brina.

Program tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung SDGs ke-4 mengenai peningkatan kualitas pendidikan.

Digitalisasi ujian di SDIT Al Ibrah menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi di sekolah tidak selalu harus bergantung pada koneksi internet. Dengan sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan, proses evaluasi pembelajaran dapat dibuat lebih hemat, cepat, dan efisien sekaligus mengurangi penggunaan kertas.