JEMBER, Kanalgresik.com – Universitas Airlangga (UNAIR) mendorong peternak kambing dan domba di Desa Sukorambi, Kabupaten Jember, meningkatkan produktivitas ternak sekaligus mengelola usaha secara lebih efisien.

UNAIR memberikan pendampingan melalui program pengabdian kepada masyarakat di Dusun Curahdami, kawasan lereng Gunung Argopuro. Program tersebut mencakup pengelolaan keuangan keluarga berbasis syariah, kesehatan ternak, hingga pemanfaatan limbah kulit kopi sebagai bahan pakan.

Tim pengabdian melibatkan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR. Dr. Irham Zaki, S.Ag., M.EI. memimpin tim bersama Prof. Dr. Sunaryo Hadi Warsito, drh., M.P., dan Prof. Dr. Sri Herianingrum, S.E., M.Si.

Program tersebut juga melibatkan UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (HMT dan HT) Provinsi Jawa Timur serta Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Jember.

Kolaborasi lintas lembaga itu menggunakan pendekatan hexa helix dengan melibatkan akademisi, pemerintah, komunitas peternak, dunia usaha, dan media untuk memperkuat potensi ekonomi lokal.

“Desa Sukorambi punya potensi peternakan kambing dan domba yang besar, tetapi selama ini pengelolaannya masih konvensional, baik dari sisi pakan, kesehatan ternak, maupun keuangan keluarga,” kata Irham.

Menurut Irham, tim tidak hanya memberikan materi. Mereka juga membangun pola pendampingan yang dapat diterapkan masyarakat secara berkelanjutan.

Ajarkan Peternak Kelola Keuangan Keluarga
Tim UNAIR memberikan materi pengelolaan keuangan keluarga sebagai salah satu bagian penting dalam pendampingan. Lina Nugraha Rani, S.E., M.SEI., mengajak peternak memahami cara membagi pendapatan secara terencana.

Dalam simulasi penghasilan Rp2 juta per bulan, peserta belajar mengalokasikan pendapatan untuk kebutuhan pokok, pendidikan anak, tabungan, dana darurat, transportasi, serta zakat dan infak.

Peserta juga mendapat informasi mengenai sejumlah program pemerintah untuk keluarga dan anak, seperti Program Indonesia Pintar (PIP), Program Makan Bergizi, dan KIP Kuliah.

Dengan materi tersebut, peternak diharapkan mampu mengelola hasil usaha secara lebih terencana. Mereka juga dapat menyiapkan kebutuhan keluarga untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Kulit Kopi Diolah Jadi Pakan Domba
Pemanfaatan kulit kopi menjadi salah satu materi yang menarik perhatian peternak. Tim memperkenalkan bahan yang selama ini sering dianggap sebagai limbah tersebut sebagai alternatif pakan domba lokal.

drh. Sanul Karimah menjelaskan bahwa peternak dapat memfermentasi kulit kopi bersama tebon jagung, dedak padi, dan EM4 selama 14–21 hari.

Hasil fermentasi kemudian dapat digunakan sebagai complete feed dengan kandungan protein kasar sekitar 11–12 persen.

“Peternak di sini banyak yang juga memiliki kebun kopi. Kulit kopi bisa diperoleh dengan biaya murah, bahkan gratis jika berasal dari kebun sendiri,” ujarnya.

Pemanfaatan kulit kopi dapat mengurangi limbah sekaligus membantu peternak menekan biaya pakan. Tim UNAIR kemudian mengenalkan konsep usaha terintegrasi melalui pemanfaatan limbah ternak.

Peternak dapat mengolah limbah kopi menjadi pakan domba. Selanjutnya, mereka dapat mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik untuk tanaman kopi.

Pola tersebut membuat limbah dari satu usaha menjadi bahan bagi usaha lainnya. Peternak pun berpeluang menghemat biaya sekaligus memperoleh tambahan pendapatan dari produk pupuk dan hasil pertanian.

Peternak Praktik Membuat Silase dan Pupuk
Pelatihan UNAIR tidak berhenti pada penyampaian materi. Para peternak juga langsung mempraktikkan sejumlah teknik yang dapat mereka gunakan dalam kegiatan sehari-hari.

Peserta belajar membuat silase dari rumput yang tersedia di sekitar desa sebagai cadangan pakan. Mereka juga mempraktikkan pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk organik padat dan cair.

Tim turut mengajarkan teknik pemberian obat cacing kepada kambing dan domba. Dengan keterampilan tersebut, peternak dapat melakukan perawatan dasar secara mandiri.

Prof. Sunaryo Hadi Warsito, drh. Sanul Karimah, dan Hanif Kurniawan, A.Md.Vet. memandu praktik lapangan dengan pengawasan Dr. Irham Zaki.

Peternak Terima Obat dan Vitamin
Selain pelatihan, kelompok ternak SiKambing Desa juga menerima bantuan untuk mendukung kesehatan ternak.

UPT HMT dan HT Jawa Timur menyerahkan 500 bolus vitamin B kompleks dan 100 bolus obat cacing kepada kelompok peternak.

Bantuan tersebut dapat membantu peternak menjaga kesehatan sekaligus produktivitas kambing dan domba milik warga.

Ketua kelompok ternak SiKambing Desa, Subaedi, menyambut positif program pendampingan tersebut. Ia menilai peternak mendapat pengetahuan baru, terutama mengenai pemanfaatan limbah kulit kopi dan pengelolaan pendapatan keluarga.

Sementara itu, Irham berharap model pendampingan tersebut dapat berkembang ke wilayah lain di kawasan lereng Argopuro.

“Pengabdian ini bukan kegiatan sekali jalan. Kami ingin ada pendampingan berkelanjutan, terutama dalam penerapan formulasi pakan berbasis limbah lokal dan pengelolaan keuangan keluarga,” katanya.

Melalui perpaduan ilmu ekonomi syariah dan peternakan, UNAIR berharap peternak Sukorambi dapat meningkatkan produktivitas, menekan biaya usaha, dan memperkuat kesejahteraan keluarga.