Kanalgresik.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik memperkuat deteksi dini gangguan gizi dan tumbuh kembang balita melalui pendampingan dokter spesialis anak di Puskesmas Sukomulyo, Kecamatan Manyar.
Sebanyak 15 balita bersama orang tuanya mengikuti pemeriksaan tersebut. Mereka merupakan hasil penjaringan dari pemantauan rutin di Posyandu dan jaringan pelayanan kesehatan desa.
Selain pemeriksaan medis, orang tua mendapatkan edukasi tentang pola asuh, pemenuhan nutrisi seimbang, serta stimulasi tumbuh kembang anak sejak dini.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Gresik, dr. Anik Luthfiyah, mengatakan pemantauan rutin menjadi kunci untuk mengenali gangguan gizi sebelum kondisinya semakin berat.
“Jika rutin ke posyandu, masalah gizi sebenarnya bisa terdeteksi jauh lebih dini,” ujar Anik, Senin (19/10/2026).
Kemampuan Kader Posyandu Perlu Ditingkatkan
Menurut Anik, keterlibatan kader Posyandu sangat penting dalam mengenali tanda awal gangguan pertumbuhan. Karena itu, Dinkes bersama puskesmas perlu terus meningkatkan kemampuan kader agar balita yang membutuhkan penanganan segera mendapat rujukan.
Ia mengingatkan agar gangguan tumbuh kembang tidak baru diketahui ketika anak berusia dua atau tiga tahun. Pemeriksaan dan pemantauan sejak dini dapat membantu tenaga kesehatan menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Dinkes Gresik juga menyoroti pola pengasuhan di lingkungan keluarga. Setiap anak memiliki kebutuhan gizi dan tumbuh kembang yang berbeda sehingga orang tua perlu menyesuaikan pola asuh dengan kondisi anak.
Selain itu, temuan kasus anemia pada balita menjadi perhatian. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan kualitas makanan, termasuk kecukupan protein hewani dan keberagaman sumber nutrisi.
“Rata-rata yang kami temukan di lapangan, variasi makanannya masih sangat kurang. Asupan protein hewani perlu mendapat perhatian serius,” kata Anik.
Rumah Sakit Diharapkan Ikut Mendukung
Program pendampingan menyasar balita berusia 0–59 bulan. Namun, Dinkes memprioritaskan anak di bawah tiga tahun karena berada dalam periode penting pertumbuhan dan perkembangan.
Penanganan dilakukan secara berjenjang. Balita yang terindikasi mengalami masalah di Posyandu akan dirujuk ke puskesmas. Jika membutuhkan pemeriksaan lanjutan, tenaga kesehatan akan mengonsultasikannya dengan dokter spesialis anak.
Anik mengakui, keterbatasan waktu dan anggaran menjadi tantangan untuk menghadirkan dokter spesialis secara rutin di puskesmas. Karena itu, ia berharap rumah sakit ikut memperkuat jejaring pelayanan agar pendampingan dapat berlangsung berkelanjutan.
Menurutnya, layanan dasar hingga konsultasi di puskesmas telah didukung skema Universal Health Coverage (UHC). Namun, kolaborasi dengan rumah sakit tetap dibutuhkan untuk memperluas akses konsultasi dokter spesialis dalam penanganan masalah gizi dan stunting.
Salah satu orang tua yang merasakan manfaat pendampingan tersebut adalah Durotun Nafisa, warga Manyar. Ia membawa putrinya, Sanum, berusia 2 tahun 2 bulan, yang hingga kini belum bisa berjalan.
Nafisa mengaku terbantu karena anaknya mendapat pemeriksaan langsung dari dokter spesialis. Ia juga memperoleh penjelasan mengenai penanganan yang perlu dilakukan.
Pendampingan ini diharapkan memperkuat upaya deteksi dini sehingga balita dengan masalah gizi maupun tumbuh kembang dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhannya.