5 Jejak yang Hubungkan Gresik dan Jombang dalam Sejarah NU

Reporter : Deni Adi Santoso
Jejak tersebut terlihat sejak era KH Faqih Maskumambang dari Gresik yang memiliki hubungan dekat dengan KH Hasyim Asy'ari dari Jombang.

Kanalgresik.com – Hubungan Gresik dan Jombang memiliki jejak panjang dalam perjalanan Nahdlatul Ulama (NU). Kedua daerah tidak hanya berdekatan secara geografis, tetapi juga terhubung melalui jaringan ulama, pesantren, tradisi intelektual, hingga pengabdian masyarakat.

Jejak tersebut terlihat sejak era KH Faqih Maskumambang dari Gresik yang memiliki hubungan dekat dengan KH Hasyim Asy'ari dari Jombang. Hubungan itu kemudian berlanjut dalam berbagai bentuk hingga pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada Agustus 2026.

Baca juga: Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031

Berikut lima fakta yang menunjukkan kuatnya hubungan Gresik dan Jombang dalam perjalanan NU.

1. KH Faqih Maskumambang, Ulama Asal Gresik
KH Faqih Maskumambang lahir di Desa Maskumambang, Sedayu, Gresik, pada 1866. Ia merupakan putra KH Abdul Jabbar dan sejak muda menempuh pendidikan agama hingga memperdalam ilmu keislaman di Makkah.

Di Makkah, KH Faqih berguru kepada sejumlah ulama, termasuk Sayyid Abu Bakar Syatha dan lingkaran keilmuan Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan.

Penguasaan berbagai disiplin ilmu membuat KH Faqih mendapat pengakuan sebagai salah satu ulama Nusantara yang memiliki jaringan keilmuan luas. Keilmuannya mencakup fikih, nahwu, hingga ilmu falak.

Habib Salim bin Ahmad bin Jindan juga mencatat sosok KH Faqih dalam manuskrip Raudhah al-Wildan. Catatan tersebut menggambarkan KH Faqih sebagai ulama yang memiliki keutamaan, menguasai syariat, serta memiliki kedalaman ilmu.

2. KH Faqih dan KH Hasyim Asy'ari di Awal NU
Hubungan Gresik dan Jombang semakin kuat ketika NU berdiri di Surabaya pada 1926.

KH Faqih Maskumambang memiliki hubungan dekat dengan KH Hasyim Asy'ari. Dalam kepengurusan awal NU, KH Faqih mendapat posisi Wakil Rais Akbar dan mendampingi KH Hasyim Asy'ari.

Hubungan kedua keluarga ulama tersebut juga semakin erat melalui pernikahan. KH Ma'shum Ali, keponakan KH Faqih sekaligus penulis kitab al-Amtsilah al-Tashrifiyyah, menikah dengan Nyai Khoiriyyah Hasyim, putri KH Hasyim Asy'ari.

Jalinan tersebut memperlihatkan hubungan erat antara jaringan pesantren Gresik dan Jombang pada masa awal perkembangan NU.

3. KH Faqih Bangun Tradisi Intelektual
KH Faqih Maskumambang tidak hanya aktif dalam jaringan pesantren. Ia juga meninggalkan sejumlah karya berbahasa Arab.

Salah satu karyanya ialah al-Nushush al-Islamiyyah fi al-Radd 'ala al-Wahhabiyyah. Karya tersebut berisi kritik terhadap pemikiran Wahhabisme yang berkembang pada masa itu.

Ia juga menulis al-Manzhumah al-Daliyyah li Ma'rifah al-Syuhur al-Qamariyyah yang berkaitan dengan ilmu falak.

Baca juga: LTM NU Gresik Raih Peringkat 2 Teraktif se-Jatim, Kiprah Kemasjidan Digaanjar Penghargaan

Karya-karya tersebut menunjukkan tradisi intelektual ulama Nusantara yang tidak hanya berkembang melalui pengajaran lisan, tetapi juga melalui penulisan dan pengembangan ilmu.

4. Warga Gresik Hadir dalam Muktamar NU ke-35
Hubungan Gresik dan Jombang kembali terlihat dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Sejumlah elemen masyarakat Gresik ikut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik, misalnya, hadir untuk menyerap aspirasi ulama terkait penguatan layanan keagamaan, termasuk bagi masyarakat di Kepulauan Bawean.

Organisasi masyarakat MADAS Sedarah DPC Gresik juga membuka posko di sekitar arena Muktamar. Mereka menyediakan makanan ringan dan minuman bagi peserta serta menyiagakan ambulans selama kegiatan berlangsung.

Kehadiran tersebut menunjukkan bahwa warga Gresik tidak hanya mengikuti Muktamar sebagai peserta atau pengunjung. Mereka juga ikut memberikan dukungan melalui pelayanan sosial dan kemanusiaan.

5. Gus Kikin Pimpin PBNU dari Jombang
Muktamar ke-35 juga mencatat babak baru dalam kepemimpinan NU. KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031 melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Gus Kikin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Terpilihnya tokoh pesantren dari Jombang tersebut menjadi bagian penting dari dinamika kepemimpinan NU setelah memasuki abad kedua.

Baca juga: Pemain Judol Dipenjara, Ekonom Pertanyakan Tanggung Jawab di Balik Platformnya

Muktamar juga mencatat momentum ketika Presiden RI Prabowo Subianto menerima Kartu Tanda Anggota NU (KartaNU) Seumur Hidup.

Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan pertemuan antara tradisi pesantren, kepemimpinan NU, dan perkembangan organisasi pada era modern.

Gresik-Jombang dan Warisan NU
Jejak KH Faqih Maskumambang dan KH Hasyim Asy'ari memperlihatkan hubungan intelektual yang telah terbangun sejak awal berdirinya NU.

Kini, hubungan tersebut hadir dalam bentuk yang lebih beragam. Selain jaringan keilmuan dan pesantren, masyarakat juga membangun hubungan melalui kegiatan sosial, pelayanan kemanusiaan, serta dukungan terhadap agenda besar NU.

Dari jaringan ulama pada awal abad ke-20 hingga Muktamar NU ke-35 pada 2026, Gresik dan Jombang terus memiliki ruang dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

Hubungan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah NU tidak hanya lahir dari satu daerah. Jaringan ulama, pesantren, keluarga, dan masyarakat dari berbagai wilayah ikut membentuk perjalanan organisasi yang kini memasuki abad kedua.

Editor : Deni Adi Santoso

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru