Literasi Gresik Tak Sekadar Soal Membaca, Perpustakaan Didorong Jadi Ruang Belajar dan Berkarya

Reporter : Deni Adi Santoso
Kepala Dispussip Gresik Budi Raharjo mendampingi anak-anak saat mengikuti kegiatan di fasilitas Aquarium Digital.

Kanalgresik.com – Pemerintah Kabupaten Gresik terus memperluas gerakan literasi masyarakat. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispussip) tidak hanya mendorong warga gemar membaca, tetapi juga mengembangkan perpustakaan sebagai ruang belajar, berkarya hingga mengenal sejarah daerah.

Kepala Dispussip Kabupaten Gresik Budi Raharjo mengatakan, program literasi kini menyasar berbagai kelompok usia, mulai anak-anak sekolah hingga masyarakat umum. Langkah tersebut dinilai penting di tengah perkembangan Gresik sebagai kawasan industri yang membutuhkan masyarakat dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang memadai.

Baca juga: Soroti Fenomena Lulusan S1 Langsung Jadi Politisi, Tri Prakoso Dorong Kader GMNI Isi Ruang Profesional dan Akademik

Perpustakaan Dibuat Lebih Menarik
Salah satu upaya yang dilakukan Dispussip adalah mengembangkan perpustakaan keliling yang menyasar sekolah dan taman baca.

Selain itu, terdapat fasilitas Aquarium Digital atau Aqudiq yang dirancang untuk membuat anak-anak lebih tertarik datang ke perpustakaan. Di fasilitas tersebut, anak-anak tidak hanya membaca, tetapi juga dapat menggambar dan mewarnai.

Hasil gambar kemudian ditampilkan secara digital melalui layar LCD. Pendekatan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi anak untuk mengenal buku dan membangun kebiasaan membaca.

Anak-anak Diajak Mengenal Dunia Menulis
Program literasi Dispussip juga diarahkan agar anak-anak tidak hanya menjadi pembaca. Mereka mulai dikenalkan dengan kegiatan menulis melalui kelas literasi bagi siswa sekolah dasar.

Program pelatihan menulis tersebut telah memasuki tahun kedua. Pada November 2026, kegiatan direncanakan berlangsung dalam dua batch dengan masing-masing 20 peserta.

Karya para peserta nantinya direncanakan diterbitkan menjadi buku. Dengan demikian, kegiatan literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga memberi ruang bagi anak-anak untuk menghasilkan karya

Gandeng Komunitas hingga Gelar Festival Literasi

Dispussip juga menggandeng berbagai komunitas untuk memperluas jangkauan gerakan literasi. Di antaranya Read Aloud Indonesia, Persaudaraan Pengkisah Muslim Indonesia serta komunitas yang memiliki perhatian terhadap naskah kuno.

Festival literasi juga digelar secara rutin setiap tahun. Sejumlah kegiatan disiapkan, seperti lomba bertutur untuk siswa SD, resensi buku untuk siswa SMP serta kegiatan yang mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya literasi dan numerasi.

Menurut Budi, peningkatan kegemaran membaca tidak cukup hanya menyasar pelajar. Masyarakat dari berbagai kelompok usia juga perlu memiliki kebiasaan membaca untuk menambah pengetahuan.

Baca juga: Sasar Pelajar dan Orang Tua, LK3 Dinsos Gresik Gencar Edukasi Pencegahan HIV Lewat Sekolah

Naskah Kuno Ikut Dilestarikan
Peran Dispussip tidak hanya berkaitan dengan peningkatan minat baca. Lembaga tersebut juga bertugas menjaga pengetahuan dan sejarah Gresik yang tersimpan dalam berbagai dokumen serta manuskrip.

Hingga kini, sebanyak 11 naskah kuno telah dialihmediakan. Di antaranya naskah Sindujoyo, Ambiya dan naskah khutbah Jumat di Masjid Sunan Giri.

Dispussip juga memiliki tambahan koleksi dari Museum Leiden, Belanda. Dua buku yang membahas statistik Gresik tahun 1822 dan kisah perkuburan di Tanah Gapuro diperoleh secara daring, kemudian dicetak untuk menambah koleksi pengetahuan masyarakat.

Upaya digitalisasi arsip juga dilakukan untuk menjaga dokumen sejarah agar tetap dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Dispussip menyimpan berbagai dokumen pembangunan daerah dan foto bersejarah sebagai bagian dari rekam perjalanan Gresik.

Penulis Lokal Ikut Mendapat Ruang
Gerakan literasi juga menyentuh kalangan penulis lokal. Dispussip memfasilitasi penerbitan karya masyarakat Gresik, termasuk karya seorang guru SMP negeri yang mengangkat pencak macan sebagai warisan budaya takbenda.

Buku tersebut dijadwalkan dibedah pada 24 September 2026. Dispussip juga berencana membeli dan mendistribusikan ratusan eksemplar melalui perpustakaan daerah sesuai kemampuan anggaran.

Baca juga: LTM NU Gresik Raih Peringkat 2 Teraktif se-Jatim, Kiprah Kemasjidan Digaanjar Penghargaan

Gresik Disebut Masuk Dua Besar Jatim
Berbagai program tersebut diklaim mulai menunjukkan hasil. Budi menyebut berdasarkan data yang dimiliki Dispussip, tingkat kegemaran membaca Kabupaten Gresik pada 2025 berada di posisi kedua di Jawa Timur.

Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat di tengah kebutuhan tenaga kerja kawasan industri.

Budi menilai kemampuan literasi dan numerasi penting agar masyarakat lokal dapat memanfaatkan berbagai peluang yang berkembang di daerahnya.

“Jangan sampai kita menjadi tamu di daerah sendiri,” ujarnya.

Karena itu, perpustakaan di Gresik kini diarahkan tidak sekadar menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku. Fungsinya diperluas sebagai ruang belajar masyarakat, tempat tumbuhnya penulis baru serta pusat pelestarian sejarah dan pengetahuan daerah.

Editor : Deni Adi Santoso

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru