Kanalgresik.com – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Driyorejo, Kabupaten Gresik, memperkuat konsolidasi organisasi hingga tingkat ranting melalui kegiatan turun ke bawah (turba) di Ranting NU Banjaran, Selasa (13/10/2026). Pertemuan di MTs Darut Tauhid Banjaran itu membahas tindak lanjut hasil musyawarah kerja, penataan administrasi kelembagaan, serta persiapan peringatan Hari Santri Nasional 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang koordinasi langsung antara pengurus MWCNU dan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Banjaran untuk memastikan program organisasi berjalan terarah. Sejumlah persoalan administrasi dan agenda keagamaan juga dibahas agar pelaksanaannya lebih tertata.
Ketua Tanfidziyah MWCNU Driyorejo, Drs. H. Imam Ashadi, M.Pd.I., hadir bersama tim turba untuk berkoordinasi dengan pengurus ranting.
Administrasi dan Legalitas Kelembagaan Jadi Perhatian
Dalam pertemuan tersebut, MWCNU Driyorejo menyosialisasikan hasil musyawarah kerja sekaligus mengevaluasi sejumlah kebutuhan organisasi di tingkat ranting.
Agenda yang dibahas meliputi pengecekan surat keputusan (SK) Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu), pendataan legalitas kelembagaan, serta pengumpulan salinan dokumen masjid, musala, dan lembaga pendidikan yang berkaitan dengan tugas Lembaga Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWPNU).
Pengurus juga menaruh perhatian pada pemasangan bendera NU di lingkungan masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan identitas organisasi sekaligus upaya menjaga keterlibatan warga dalam kegiatan Nahdlatul Ulama.
Ketua Tanfidziyah MWCNU Driyorejo menyampaikan bahwa komunikasi langsung dengan pengurus ranting diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan organisasi dan menentukan tindak lanjut bersama.
“Agenda ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tertib administrasi dan pendataan kelembagaan, sekaligus mendorong agar program organisasi dapat terlaksana secara terarah dan berkelanjutan. Melalui komunikasi langsung dengan pengurus ranting, berbagai kebutuhan dan aspirasi diharapkan dapat teridentifikasi sehingga menjadi bahan koordinasi dan tindak lanjut bersama,” tuturnya.
Jadwal Lailatul Ijtima 2027 Mulai Dibahas
Selain persoalan administrasi, pertemuan tersebut membahas penyusunan jadwal Lailatul Ijtima untuk 2027. Penjadwalan dilakukan agar kegiatan keagamaan di lingkungan NU dapat berlangsung secara terencana dan berkesinambungan.
Koordinasi juga diarahkan untuk memperkuat sinergi antara pengurus MWCNU dan ranting dalam menjalankan program keagamaan, sosial, serta pendidikan.
Ketua PRNU Banjaran, Munif As’ad, menilai turba menjadi sarana penting untuk menjaga komunikasi dan hubungan kerja antarstruktur organisasi.
“Turba merupakan salah satu bentuk komunikasi organisasi untuk menjaga hubungan antara pengurus di tingkat MWC dan ranting. Melalui pertemuan langsung, koordinasi program tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga pada penguatan kelembagaan dan penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi pengurus di tingkat bawah,” kata Munif.
Persiapan Hari Santri Nasional 2026
Peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober turut menjadi agenda pembahasan. Koordinasi ini diharapkan membantu menyelaraskan kegiatan di tingkat ranting dengan program organisasi.
Hari Santri menjadi momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peringatan tersebut juga menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai keilmuan, akhlak, pengabdian, dan peran santri di tengah masyarakat.
Melalui turba di Banjaran, MWCNU Driyorejo berharap konsolidasi organisasi semakin kuat, administrasi kelembagaan lebih tertib, dan program NU dapat berjalan secara berkelanjutan hingga tingkat masyarakat.