Kanalgresik.com – Dusun Jetek, Desa Sumari, Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik, menyimpan kisah sejarah yang berkaitan dengan pemerintahan Kerajaan Islam Giri Kedaton dan perkembangan syiar Islam. Nama dusun ini, menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, Syaiful Arif, berawal dari istilah Idjatika, yang dikaitkan dengan jabatan perpajakan tanah pada masa Sunan Prapen.
Kisah tersebut disampaikan Syaiful Arif di hadapan ratusan warga dalam kegiatan peringatan Maulid Nabi sekaligus Sedekah Bumi di Dusun Jetek. Penuturan itu mengangkat kembali peran Syekh Muhammad Yusuf, ulama yang disebut pernah mendapat amanah mengurus perpajakan pertanahan sekaligus mengembangkan pendidikan Islam di wilayah tersebut.
Narasi sejarah lokal ini memperlihatkan bagaimana nama sebuah dusun dapat berkaitan dengan struktur pemerintahan, tokoh agama, dan tradisi pendidikan yang berkembang pada masa lampau.
Syekh Muhammad Yusuf Dapat Amanah dari Sunan Prapen
Menurut cerita sejarah yang disampaikan Syaiful Arif, perkembangan Jetek berkaitan dengan keberadaan Giri Kedaton, yang tumbuh sebagai pusat pemerintahan sekaligus pendidikan Islam di kawasan Gresik.
Setelah Sunan Giri memimpin Giri Kedaton, kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sunan Prapen. Dalam narasi tersebut, kerajaan memiliki struktur pejabat yang menangani sejumlah urusan perpajakan untuk mendukung jalannya pemerintahan.
Salah satu jabatan itu disebut Nayaka Bumi Idjatika, yang berkaitan dengan pengelolaan pajak tanah. Sunan Prapen dikisahkan menunjuk Mbah Muhammad Yusuf untuk menjalankan tugas tersebut di wilayah barat Giri Kedaton.
Mbah Muhammad Yusuf kemudian mendirikan tempat operasional perpajakan di wilayah yang dalam perkembangannya dikenal sebagai Dusun Jetek.
Dalam cerita yang sama, terdapat pula jabatan Nayaka Bumi Iwada’ yang berkaitan dengan pajak ternak atau hewan, serta Nayaka Idjurupa’adeg atau Idjurupamadeg yang mengurus perpajakan sektor besi. Lokasi yang dikaitkan dengan struktur tersebut kini disebut berkembang menjadi Dusun Wadak dan Dusun Padeg.
Asal Nama Jetek Berkaitan dengan Istilah Idjatika
Syaiful Arif menjelaskan, nama Jetek dipercaya mengalami perubahan pelafalan secara bertahap dari istilah Idjatika menjadi Idjetek, hingga akhirnya dikenal sebagai Jetek.
Penjelasan ini berbeda dari anggapan sebagian masyarakat yang menghubungkan nama Jetek dengan kata getek, yakni rakit atau perahu sederhana.
Meski demikian, asal-usul tersebut merupakan penuturan sejarah lokal yang perlu ditelusuri lebih lanjut melalui sumber tertulis, arsip, maupun kajian sejarah untuk memastikan perkembangan istilah dan kronologinya.
Kisah tersebut tetap menjadi bagian dari upaya masyarakat mengenali identitas wilayahnya melalui tradisi tutur yang diwariskan antargenerasi.
Dari Urusan Pemerintahan hingga Pendidikan Islam
Selain menjalankan tugas yang berkaitan dengan perpajakan tanah, Mbah Muhammad Yusuf juga dikenal dalam kisah lokal sebagai ulama yang mengembangkan pendidikan Islam di Jetek. Ia disebut memiliki penguasaan ilmu fikih serta mengajarkan tasawuf dan tauhid kepada masyarakat dan para santri.
Mbah Muhammad Yusuf juga dikisahkan bergelar Susuhunan Kalisegoro. Dalam tradisi yang disampaikan Syaiful Arif, ia mendirikan pesantren untuk mengajarkan ilmu agama, termasuk ajaran tasawuf Mu'takot Seket yang dikaitkan dengan tradisi keilmuan Giri Kedaton.
Kedalaman spiritualnya diceritakan terbentuk melalui perjalanan tirakat dan tradisi uzlah, yakni mengasingkan diri untuk beribadah dan mendalami kehidupan rohani. Ia disebut pernah menjalani uzlah selama tiga tahun di tujuh gua di kawasan Giri Gajah.
Kisah tersebut menempatkan Mbah Muhammad Yusuf bukan hanya sebagai tokoh yang dikaitkan dengan struktur pemerintahan, tetapi juga sebagai figur penyebaran ilmu agama di wilayah Jetek.
Syekh Muhammad Ali Melanjutkan Tradisi Pesantren
Menjelang usia lanjut, Syekh Muhammad Yusuf disebut menunjuk Syekh Muhammad Ali sebagai penerus kepemimpinan pesantren. Syekh Muhammad Ali kemudian dikisahkan menjadi menantunya dan melanjutkan pengasuhan santri serta tradisi pendidikan Islam di wilayah tersebut.
Cerita mengenai pergantian kepemimpinan ini menunjukkan pentingnya peran penerus dalam menjaga keberlanjutan lembaga pendidikan dan tradisi keagamaan masyarakat.
Bagi warga Dusun Jetek, kisah Syekh Muhammad Yusuf menjadi salah satu bagian dari ingatan sejarah lokal yang diwariskan melalui penuturan tokoh masyarakat dan kegiatan tradisi desa.
Peringatan Maulid Nabi dan Sedekah Bumi menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat kebersamaan sekaligus mengenang cerita mengenai asal-usul wilayahnya.