Kanalgresik.com – Perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) menjadi pengingat penting bagi generasi penerus agar tidak sekadar menikmati hasil perjuangan para ulama. Pesan tersebut mengemuka saat rombongan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo berziarah ke makam KH Faqih Maskumambang dan KH Abdul Hamid Faqih di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Minggu (1/11/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 sekaligus napak tilas sejarah perjuangan para muassis NU. Tidak hanya berziarah, rombongan juga mendapatkan penjelasan langsung mengenai perjalanan hidup, sanad keilmuan, jaringan ulama, hingga karya-karya KH Faqih Maskumambang dari keturunannya.
Baca juga: Enam Personel Banser Manyar Kawal Forum Ulama, Pastikan Bahtsul Masail PCNU Gresik Berjalan Kondusif
Rombongan yang menggunakan satu bus dan satu minibus tiba di kompleks makam sekitar pukul 09.00 WIB. Hadir di antaranya Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo KHR Abdussalam Mujib, Ketua Tanfidziyah PCNU Sidoarjo KH Zainal Abidin, Sekretaris PCNU Sidoarjo Ir. Agus Mahbub Ubaidillah, serta jajaran pengurus lembaga dan badan otonom NU.
Kedatangan mereka disambut Muntadhim Muttaqwa, cicit KH Faqih Maskumambang, bersama Ali Mujib, Wakil Sekretaris PCNU Gresik. Sejumlah personel Banser Satkoryon Dukun dan kader Penggerak NU Gresik turut mendampingi kegiatan tersebut.
Mendengar Langsung Sejarah Dua Muassis NU
Suasana ziarah semakin bermakna ketika Muntadhim Muttaqwa menyampaikan manakib KH Faqih Maskumambang. Ia menguraikan perjalanan hidup sang kiai, sanad keilmuan, hubungan dengan ulama sezaman, para santri, hingga karya-karya yang ditinggalkan.
Dalam kesempatan itu, Muntadhim juga menunjukkan keberadaan makam KH Abdul Hamid Faqih, putra KH Faqih Maskumambang, yang berada tidak jauh dari makam ayahnya. Keduanya disebut sebagai tokoh yang memiliki peran dalam sejarah pendirian NU.
“Di sini ada dua makam yang termasuk muassis NU. Pertama, Mbah KH Faqih Maskumambang. Dan yang kedua putranya, Mbah Abdul Hamid Faqih,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, KH Faqih Maskumambang lahir pada 1857 dan wafat pada 1937 dalam usia 80 tahun. Beliau merupakan putra KH Abdul Jabbar Maskumambang, pendiri Pondok Pesantren Maskumambang.
Bagi rombongan PCNU Sidoarjo, penjelasan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah dan kontribusi para ulama dalam perjalanan awal Nahdlatul Ulama.
Baca juga: Asah Bakat Kaligrafi Pelajar, Lesbumi NU Cerme Gelar Lomba Seni Islami di MI Al Hidayah
Menjelang Konfercab, Kader Diajak Meneladani Pengorbanan Ulama
Ketua Tanfidziyah PCNU Sidoarjo KH Zainal Abidin menyampaikan rasa syukur atas kesempatan bersilaturahmi dan berziarah ke makam para muassis NU di Gresik.
Ia mengingatkan bahwa generasi penerus harus memahami besarnya pengorbanan para ulama dalam membangun jam'iyah. Menurutnya, kader NU saat ini menikmati hasil perjuangan yang telah dirintis dengan pengorbanan besar oleh para pendahulu.
“Mungkin kita jarang untuk mendengarkan cerita atau manakib yang disampaikan oleh para muassis Nahdlatul Ulama. Hari ini kita hadir di sini, kita bisa mendengarkan langsung sejarah perjalanan beliau-beliau. Harus menyadari betul bahwa apa yang kita persembahkan untuk NU belum ada apa-apanya. Hari ini kita hanya menikmati perjuangan, pengorbanan, yang para muassis lakukan,” tuturnya.
KH Zainal berharap kisah perjuangan KH Faqih Maskumambang dapat menjadi inspirasi bagi pengurus dan kader NU untuk meningkatkan pengabdian. Khidmah, menurutnya, tidak cukup hanya dengan menyediakan waktu, tetapi juga membutuhkan sumbangsih pemikiran, harta, dan seluruh potensi yang dimiliki.
Baca juga: RS Wates Husada Edukasi Santri Cegah Narkoba Sejak Dini di Hari Santri 2026
Pesan tersebut dinilai relevan menjelang Konferensi PCNU Sidoarjo ke-22. Ketua Panitia Ziarah Muassis NU PCNU Sidoarjo, M. Dodi Dliya’uddin, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sarana refleksi untuk kembali melihat perjuangan para pendiri NU.
“Kegiatan ini bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026 yang diadakan oleh PCNU Sidoarjo. Alhamdulillah, harapannya agar PCNU ke depan melihat kembali bagaimana perjuangan para muassis pendiri Nahdlatul Ulama. Kegiatan ini juga menjadi tirakat atau mujahadah menjelang Konferensi PCNU Sidoarjo ke-22,” katanya.
Rangkaian ziarah ditutup dengan pembacaan tahlil dan doa bersama yang dipimpin Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo KHR Abdussalam Mujib, dilanjutkan tabur bunga di makam KH Faqih Maskumambang dan KH Abdul Hamid Faqih.
Setelah dari Gresik, rombongan melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk berziarah ke makam KH Ridwan Abdullah di Tembok, makam H. Hasan Gipo, makam Sunan Ampel, serta makam Mas Alwi di kompleks pemakaman Rangkah.
Editor : Deni Adi Santoso