Kanalgresik.com – Aktivitas reklamasi atau pengurukan lahan di sekitar kawasan industri Java Integrated Industrial Port and Estate (JIIPE), wilayah Mengare, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, menuai protes warga. Masyarakat mengkhawatirkan kegiatan tersebut berdampak terhadap tambak produktif yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

Warga dari tiga desa menyampaikan keberatan melalui pemasangan sejumlah spanduk di sekitar lokasi proyek. Mereka meminta pengembang memperhatikan dampak aktivitas pengurukan terhadap lahan tambak dan kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu petani tambak asal Desa Watuagung, Mengare, Malik, menegaskan bahwa warga tidak menolak pembangunan kawasan industri. Namun, ia meminta agar pembangunan tidak mengorbankan mata pencaharian masyarakat.

“Kami bukan anti pembangunan. Tetapi jangan sampai pembangunan kawasan industri justru mengorbankan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari tambak. Aktivitas pengurukan sudah berdampak terhadap lahan kami, bahkan banyak ikan yang mati. Kami menuntut kejelasan lahan dan ganti rugi,” tegas Malik.

Warga Sebut Enam Titik Tambak Terdampak
Malik menyebut sedikitnya enam titik lahan tambak terdampak aktivitas pengurukan. Menurutnya, seluruh lahan tersebut masih produktif dan aktif dikelola warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Ada enam lahan yang paling terdampak. Semuanya masih aktif digarap warga,” tandasnya.

Selain dugaan kematian ikan, warga juga mengkhawatirkan kondisi aliran sungai yang selama ini menopang aktivitas nelayan dan petani tambak. Mereka menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan keberlangsungan usaha masyarakat.

Mediasi Belum Hasilkan Penyelesaian
Malik menjelaskan, pemasangan spanduk merupakan bentuk kekecewaan warga setelah upaya mediasi dengan manajemen PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) selaku pengelola kawasan industri maupun pihak JIIPE belum menghasilkan penyelesaian konkret.

“Warga sudah pernah melakukan mediasi dengan pihak manajemen PT BKMS dan JIIPE. Namun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda tuntutan kami ditindaklanjuti. Sebaliknya, proyek tetap berjalan dan semakin mendekati lahan tambak warga,” ungkapnya.

Melalui aksi tersebut, warga meminta kejelasan mengenai status lahan, penyelesaian dampak proyek, serta ganti rugi yang layak apabila terbukti terjadi kerugian akibat aktivitas reklamasi.

“Kami berharap pihak pengembang bijak menyikapi persoalan ini agar segera ada titik temu dan solusi konkret. Jangan sampai masyarakat kecil terus dirugikan,” pungkas Malik.

Aksi pemasangan spanduk oleh warga dari tiga desa di Mengare berlangsung damai dengan pengawalan aparat kepolisian. Sejumlah elemen masyarakat turut hadir, termasuk unsur pemerintah desa, nelayan, dan pemuda setempat.