Kanalgresik.com – Gelombang tinggi dan angin kencang yang melanda perairan Laut Jawa membuat pelayaran rute Gresik–Bawean lumpuh. Kondisi tersebut berdampak pada delapan pelajar asal Pulau Bawean yang hingga kini belum dapat kembali ke kampung halaman setelah menyelesaikan tugas sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Gresik.

Kedelapan pelajar tersebut berada di Gresik sejak awal Agustus 2026 untuk menjalani karantina dan latihan intensif sebelum bertugas dalam upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Bupati Gresik pada 17 Agustus lalu.

Usai menjalankan tugas, rekan-rekan mereka yang berasal dari wilayah daratan Gresik telah kembali ke rumah masing-masing. Namun, para pelajar asal Bawean masih harus bertahan di daratan karena kapal penyeberangan belum dapat beroperasi akibat kondisi cuaca.

Ketua DPRD Kabupaten Gresik, M. Syahrul Munir, memastikan kebutuhan dasar kedelapan pelajar tersebut tetap terpenuhi selama menunggu jadwal pelayaran kembali normal.

“Untuk penginapan masih ditanggung Bakesbangpol Gresik. Sementara kebutuhan makan sehari-hari kami bantu fasilitasi sampai mereka bisa kembali ke Bawean,” ujar Syahrul saat menerima kunjungan delapan pelajar Paskibraka Bawean di Kantor DPRD Gresik, Kamis (27/8/2026).
Syahrul mengapresiasi perjuangan para pelajar yang telah menjalankan tugas sebagai Paskibraka Kabupaten Gresik. Menurutnya, pengalaman tersebut harus menjadi motivasi bagi mereka untuk terus mengembangkan prestasi.

Ia juga berpesan agar para pelajar tetap menjaga kesehatan selama berada di daratan dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya di media sosial.

Sempat Cari Jalur Alternatif ke Bawean
Upaya untuk memulangkan kedelapan pelajar tersebut sebelumnya juga dilakukan dengan mencari jalur penyeberangan alternatif.

Anggota DPRD Gresik dari daerah pemilihan Bawean, Bustami Hazim, mengatakan pihaknya bersama pemerintah daerah sempat mempertimbangkan keberangkatan melalui Pelabuhan Paciran, Lamongan.

“Kami sempat mencari alternatif keberangkatan melalui Pelabuhan Paciran, Lamongan. Anak-anak juga sudah bersedia lewat sana agar bisa cepat pulang. Namun, kapal di Paciran pun belum dapat berlayar karena terkendala cuaca ekstrim dan masih tertahan di Bawean,” jelas Bustami.
Dengan kondisi tersebut, pilihan untuk memulangkan para pelajar masih menunggu perkembangan cuaca dan kondisi gelombang di Laut Jawa.

Keselamatan menjadi pertimbangan utama sebelum kapal kembali diberangkatkan. Para pelajar pun diminta bersabar hingga kondisi perairan memungkinkan untuk dilalui kapal penyeberangan.

Sampaikan Aspirasi Pendidikan Bawean
Selain membahas kepulangan, pertemuan para pelajar dengan pimpinan DPRD Gresik juga dimanfaatkan untuk menyampaikan sejumlah aspirasi terkait kondisi Pulau Bawean.

Para Paskibraka tersebut menyuarakan harapan mengenai pengembangan fasilitas pendidikan serta pemberdayaan generasi muda di Bawean. Aspirasi itu menjadi bagian dari perhatian terhadap kebutuhan anak-anak muda di wilayah kepulauan.

Sementara itu, delapan anggota Paskibraka Bawean masih harus memperpanjang masa tinggal mereka di Gresik. Mereka menunggu hingga gelombang Laut Jawa kembali melandai dan kapal penyeberangan dapat beroperasi dengan aman.

Kondisi tersebut menjadi konsekuensi dari cuaca ekstrem yang tidak hanya mengganggu aktivitas pelayaran, tetapi juga membuat para pelajar yang telah menuntaskan tugas kenegaraan harus menunda kepulangan ke rumah.